Hattrick bunuh diri di awal tahun 2019

Kamis, 17 Januari 2019
hattrick-bunuh-diri-di-awal-tahun-2019

Tingginya kasus bunuh diri hendaknya menjadi perhatian serius masyarakat Gunungkidul. Tidak hanya pemerintah daerah, namun juga seluruh masyarakat di Gunungkidul. Kejadian yang selalu diidentikkan dengan negeri batu kapur itu, seakan tidak bisa hilang begitu saja. Dengan 27 kejadian bunuh diri pada tahun 2018, menjadikan Gunungkidul rangking 1 dalam peringkat bunuh diri di Indonesia.

 

Baru saja tahun 2018 ditinggalkan, namun seakan kejadian bunuh diri ini tidak ada hentinya. Di awal bulan januari ini telah terjadi 3 kasus bunuh diri. Waktunya berdekatan. Beruntun dan tragis. Kejadian pertama terjadi pada tanggal 4 januari 2019. Di dusun Sambirejo, Desa Watusigar, Ngawen , Gunungkidul. Seorang ibu rumah tangga, SDR (45 tahun) nekat gantung diri di rumahnya. Saat itu suaminya tengah pergi ke lading. Di duga karena himpitan permasalahan ekonomi, ia nekat mengakhiri hidupnya. Korban terjerat hutang piutang dengan hampir 10 rentenir. Bahkan ketika jenazahnya dimakamkan, ada rentenir yang datang nekat untuk menagih hutangnya.

 

Kejadian kedua, berselang dua hari dari kejadian yang pertama. Hari Ahad tanggal 6 Januari 2019. Seorang nenek-nenek nekat bunuh diri. TMK (90 tahun) warga dusun Pucung, Candirejo, Semin, Gunungkidul gantung diri di emperan rumahnya. Selain karena masalah ekonomi di duga korban nekat bunuh diri karena sudah renta dan pikun.

Berselang satu hari , terjadilah kejadian yang ketiga. Senin, 7 Januari 2019 seorang simbah, PD (67 tahun) gantung diri di teras depan rumahnya. PD warga dusun Karangduwet, Karangrejek, Wonosari, Gunungkidul nekat bunuh diri lantaran penyakit menahunnya yang tidak kunjung sembuh. Padahal pagi itu jadwal si simbah berobat kerumah sakit.

 

Menurut Kapolres Gunungkidul, AKBP Ahmad Fuady, persoalan bunuh diri, khususnya dengan cara gantung diri di Gunungkidul memang sangat kompleks. Ada beberapa faktor utama penyebab maraknya kasus bunuh diri di Gunungkidul, salah satunya adalah kondisi geografis Gunungkidul yang sangat luas serta jarak antar rumah warga yang saling berjauhan. Hal ini mengakibatkan hubungan sosial antar masyarakat menjadi sangat kurang sehingga banyak masyarakat yang merasa kurang perhatian. Persentase angka bunuh diri di kabupaten Gunungkidul mencapai sembilan kasus per 100.000 penduduk. Sebagai perbandingan, persentase angka bunuh diri di Jakarta hanya 1,2 kasus per 100.000 penduduk.

 

Berdasarkan data di Liputan 6 Online, kasus bunuh diri mengalami kenaikan yang signifikan, yaitu tahun 2010 = 27 orang, tahun 2011= 28 orang, 2012 = 30 orang, tahun 2013 = 25 orang, tahun 2014 = 19 orang, tahun 2015 = 33 orang, tahun 2016 = 33 orang dan tahun 2017 = 34 orang. Dengan jumlah penduduk 755.977 jiwa, maka Gunungkidul termasuk salah satu daerah dengan kasus bunuh diri yang tinggi di Indonesia. Ironis memang, daerah yang sangat eksotis namun memiliki permasalahan yang sangat memrihatinkan. Sehingga jika disebutkan kasus bunuh diri, pasti akan selalu dikaitkan dengan kabupaten Gunungkidul.

 

Terkait peringkat kasus bunuh diri yang tertinggi di Indonesia. Sebagai seorang muslim, marilah kita berupaya mengajarkan nilai-nilai ajaran agama Islam kepada masyarakat. Kasus bunuh diri terjadi karena terjadi degradasi keyakinan dalam masyarakat kita. Keimanan kepada Taqdir (qadha dan qodar) mengalami penurunan. Kalaupun faktor kemiskinan yang selalu disoroti sebagai pemicu utama bunuh diri, tentu hal ini tidak lepas dari kemrosotan dalam hal keimanan pelaku bunuh diri. Faktor lain yang sering menjadi pemicu bunuh diri adalah sakit yang tidak kunjung sembuh. Namun jika dicermati, hal ini lekat kaitannya dengan menurunnya kadar keimanan kepada taqdir Allah. Orang yang keimanannya tinggi, insyaallah tidak akan tergoda untuk melakukan tindakan bunuh diri. Entah karena faktor ekonomi ataupun faktor yang lain. Maka berperanlah dengan menebarkan dakwah Islam yang santun dengan mengajarkan tauhid sebagai landasannya. Ingatkan manusia agar selalu ingat dan hanya menyembah kepada Allah Ta’ala.

 

Kalaupun kemudian terdapat mitos yang berkembang berkaitan dengan bunuh diri berupa “pulung gantung” maka hal ini erat kaitannya dengan kemrosotan dalam hal keimanan. Istilah ini merujuk pada kepercayaan terhadap alasan seseorang melakukan bunuh diri. Masyarakat menyakini, orang melakukan tindakan bunuh diri karena merasa memeroleh “pulung” atau “wahyu” berupa tanda bintang dari langit di malam hari. Bintang ini jatuh dengan cepat menuju rumah atau dekat rumah si korban bunuh diri. Biasanya korban akan melakukan bunuh diri dengan cara gantung diri. Keyakinan “pulung gantung” ini seakan-akan menjadi pembenaran terhadap kejadian bunuh diri.

 

Mitos “pulung gantung” di kabupaten Gunungkidul merupakan bagian proses kulturisasi akan penerimaan suratan nasib yang seolah terjadi secara alamiah. Bunuh diri semacam ini sudah menjadi pengetahuan yang direproduksi di lingkungan masyarakat sekitar, sehingga seolah menjadi “bahan ajar” bagaimana mengatasi masalah dan problema hidup yang tak lagi bisa dikendalikan oleh nalar dan kontrol emosi pelakunya. Sehingga jika terdapat kasus bunuh diri, lalu dikaitkan dengan pulung gantung maka seolah-olah kejadian itu sah sah saja. Wajar. Karena bukan kehendaknya sendiri. Tentu hal ini keliru dan perlu diluruskan. Seorang muslim harus menunjukkan perannya dalam permasalahan seperti ini. Dengan dakwah tauhid yang santun, insyaallah penyelesaian kasus bunuh diri dapat dilaksanakan. Sehingga insyaallah kasus bunuh diri dapat ditekan dan dikurangi tiap tahunnya._NG_

Penulis : Gunarto

Salah satu staf pengajar di PP Al I'tisham Gunungkidul